Sabtu, 16 September 2017

Seseorang Bernama kamu.

Kamu …

Kepada seseorang bernama kamu, seseorang yang tak bisa kusebut namanya.
Seseorang yang hanya bisa kurasakan keberadaannya ketika aku memejamkan mata.
Seseorang yang tak perlu mengetahui segala tentangku, tapi seakan sudah melekat dinadiku.
Sudah menjadi pelengkap diketidaksempurnaanku, dan menjadi penenang di kelelahanku.

Kamu itu penawar ketika aku mual dengan segala rupa yang kutelan mentah-mentah.

Kamu itu candu yang mematikan raga.

Bagiku, kamu itu secangkir kopi pahit yang kutemui dipagi hari. Yang meski sudah kukatakan kamu adalah kopi pahit, namun aku terus saja datang padamu, meneguk mu pelan, hingga menyisakan ampas yang kusebut rindu. Pernah sesekali aku sengaja membiarkanmu mendingin disana, dicangkirmu yang beku, karena terkadang aku lelah dengan rasa pahit yang kau buat-buat. Aku lelah harus berperang dengan getir ketika meneguk kamu. Namun lihat, aku tetap kembali bukan?

Aku memang sedang beradu dengan takdir yang seolah mempermainkanku, takdir yang seakan menertawakanku dari sudut kesendirian. Tapi coba rasakan, kamu pun sama tersesatnya denganku. Sama-sama ingin memutar waktu namun gagal.  Sama-sama ingin mengulang beberapa kesempatan, namun benar-benar kehilangan jalan menuju kesana. Kamu juga sama terperangkapnya sepertiku. Sama-sama hanya bisa menatap kedua kaki yang terikat tak bergerak. Sama-sama hanya bisa membiarkan semua berlalu tanpa permisi.


Kadang kita memang harus menyadari ada banyak sisi kehidupan yang memang harus dijalani mau tidak mau, suka tidak suka. Ya tetap harus ditelan meski pahit. Tak apa, nanti kamu akan menemukan beberapa butir gula yang telah disiapkan untukmu, agar kamu tidak merasa mual dan ingin segera mengakhiri hidup.

Kamu itu menguatkanku, membuatku sadar bahwa malam tak lagi se-menyakitkan dulu, bahwa hujan tak lagi se-dingin dulu, dan bahwa  tangis tak lagi se-mematikan dulu.

Kamu …

Seseorang yang tak bisa kusebut namanya, setidaknya meski aku pernah mencoba, suaraku selalu tertahan disekat bernama hati. Jadi mari kita biarkan saja segalanya.
Karena sekali lagi kukatakan, aku pun sama denganmu.
Sama-sama menahan rindu, namun tak pernah ingin bertemu.
Sama-sama ingin berlari, namun tak pernah benar-benar menggerakkan kaki.



karena sekat terbesar antara aku dan kamu hanyalah rindu yang membeku.

Selasa, 05 April 2016

Perjalanan Bertemu Duta

Ini sudah hari ke 32 usia Duta. Iya, Duta. Malaikat kecil yang kini tengah tidur pulas dipangkuanku. Ku akui, perjalanan bertemu dengannya tidaklah mudah.

Bermula cerita dengan riwayat keguguran dikehamilan pertama, aku mengikhlaskan untuk berhenti dari pekerjaanku, berhenti menapaki karier yang bisa saja dalam hitungan bulan aku sudah menjadi supervisor. Tak apa, demi kehamilan yang lancar, aku relakan ambisiku untuk menjadi wanita karier sementara ini.

Bulan pertama, bulan kedua, bulan ketiga. Selama tiga bulan pertama aku menjalani kehamilan ditempat tinggal yang kurang nyaman. Iya, hanya berukuran 3x7 meter. Lalu pada bulan keempat, kami sepakat untuk mengontrak rumah agar bisa lebih luas merawat bayi kelak.

Singkat cerita, aku yang tengah hamil usia 36 weeks, dihadapkan pada kenyataan bahwa janin yang ada didalam rahimku mengalami kasus placenta previa, dimana plasenta menutupi jalan lahir, dan dokter menyarankan untuk ceasar. Tuhan, aku tak pernah membayangkan melahirkan dengan cara itu. Oke. yang membuatku takut bukan luka jahitan, tapi hari hari setelah melahirkan. Proses ceasar tak bisa cepat pulih, sedangkan aku sudah harus menyiapkan tenaga dan mental untuk mengurus segalanya sendiri.

Pada usia 37 weeks aku kembali menjalani pemeriksaan, dan lagi-lagi dokter memberitahukan bahwa kondisi janinku tetap pada hasil yang sama. Placenta previa!

Setiba dirumah, hatiku robek. Remuk seperti remahan roti. Sungguh aku benar-benar ingin normal!!
Suami menenangkanku bahwa aku harus selalu berfikir positif menghadapi persalinan. Mungkin ia bisa sesantai itu karena tak ada diposisiku. Diposisi wanita yang tengah hamil tua dan dibayang-bayangi meja operasi.

Segala upaya dan cara kulakukan untuk memperbaiki kondisi didalam rahimku sambil sesekali mengajaknya bicara tentang betapa aku ingin melahirkannya dengan normal agar bisa langsung menggendong dan merawatnya. Berkali-kali kuucapkan itu, semoga ia mendengar.

Usia 38 weeks aku belum juga merasakan tanda-tanda persalinan, tak ada kontraksi, tak ada pendarahan, tak ada air ketuban yang keluar. Tak ada apapun!
Usia 39 weeks, tepat satu minggu sebelum HPL. Pukul 7 malam aku merasakan mulas, memang perasaan saat itu sudah sangat gusar, entah karena memang sudah waktunya atau memang terbawa suasana. Tapi tubuhku langsung bergetar ketika kudapati ada flek di pakaian dalamku. Astaga! waktunya sebentar lagi! Bahagia bercampur rasa semakin cemas.
Kuceritakan pada suami tentang berita bahagia itu, lalu ia menggenggam tanganku dan berkata "pasti bisa.. bismillah ya ma.." Oh Tuhan betapa aku ingin berteriak pada dunia bahwa beberapa jam kedepan aku akan melahirkan yang kata orang sakitnya luar biasa antara hidup dan mati.

Segera ku dibawa ke rumah bersalin terdekat tempat biasa aku memeriksa kandungan. Bidan memeriksaku dan jawaban bidan sungguh membuatku lemas "oh, belum ada apa-apa kok ini" begitu katanya setelah melakukan pemeriksaan dalam yang sakitnya naudubillah. Ok, aku hanya terlampau GR mungkin, berharap akan segera melahirkan ternyata masih belum. kataku dalam hati.
Lalu bidan memberiku suntikan dibagian (maaf) pantat yang nyerinya luar biasa. Setelah itu aku diperbolehkan pulang dengan segenap cerita mengecewakan pada keluarga yang sudah menanti kelahiran seorang bayi.

Tiba dirumah aku merasakan sesuatu bergejolak diperutku. Oh apa ini? seperti di korek korek dari dalam. Dan jujur rasanya setiap korekan itu kurasakan aku seperti ingin meremas sesuatu untuk menahan sakit yang tidak biasa itu. Segera googling, dan menurut dari yang aku baca adalah aku sedang mengalami kontraksi pembukaan. Benarkah? sungguh?
Semalaman dari pukul 11 malam sampai pukul 3 dini hari kontraksi kurasakan tiap 30 menit sekali, sempat tertidur tapi terbangun lagi karena rasa kontraksi yang makin tak tertahankan.
Pagi itu aku masih sempat mandi, masih sempat sarapan. Karena kurasakan kontraksi menghilang, ada rasa sedih didalam hati kenap tak ada lagi kontraksi yang menandakan kelahiran semakin dekat, kenapa.

Pukul 8 pagi, aku merasakan kontraksi lagi. Kali ini lebih hebat! Lebih astaghfirullah! Lebih sakit dari semalam. Dan interval sakitnya sudah mendekat, tiap 15 menit sekali. Lalu menjadi 10 menit sekali, dan naik lagi menjadi tiap 5 menit ada 2 sampai 3 kontraksi. Bayangkan di lima menitmu kamu merasakan perutmu dirobek robek dari dalam. Kuremas remas tangan suamiku yang sedetikpun tak beranjak dari sisiku ketika aku merasakan sakitnya kontraksi.

Pukul 11 aku sudah menyerah pada sakitnya, yang tadinya aku masih sesekali berbincang, tertawa dan melakukan aktivitas. Kini sudah tak bisa lagi, kakiku rasanya lumpuh. Lemas tak bertulang seperti ingin jatuh. Allah, sakitnya.
Ya Allah sakit! Luar biasa sakit!

Aku dilarikan ke rumah bersalin yang sama, dan dengan bantuan bidan-bidan setempat aku ditidurkan diruang tindakan, karena memang kakiku lemas. Setelah dilakukan pemeriksaan dalam, betapa takjubnya aku ketika bidan mengatakan "Sudah bukaan 5, ayo setengah jalan lagi" katanya sambil menyiapkan alat-alat untuk persainanku.

Allahuakbar! Allahuakbar! Semakin naik bukaan rasanya semakin tak tahan. Jangankan untuk berbicara, untuk bernafas saja aku sudah kelelahan. Dan lagi-lagi suami yang selalu disampingku mengingatkan untuk atur nafas! Atur nafas ma!
Entah sudah bukaan berapa yang kurasakan saat ini, aku diintruksi untuk miringkan badan kekiri. Dan luar biasa, miring kiri membuat kontraksinya semakin menjadi-jadi. Aku kesakitan. Rasa ingin mengejan pun mulai terasa dari leher, sesekali aku berteriak kesakitan tapi suami mengingatkan "jangan teriak, nanti tenaganya habis ma, atur nafas! atur nafas!"

Sial! aku kehilangan fokus selama beberapa menit itu. Efek kontraksi yang semakin lama membuat nafasku hilang kendali.
Melihat reaksiku yang seperti sudah tak tahan dengan sakitnya, bidan melakukan pemeriksaan dalam kembali. "Sudah bukaan lengkap, ayo semua" aku masih bisa mendengar dengan jelas bidan tersebut mengatakan itu pada bidan-bidan yang lain agar bersiap-siap untuk menolongku melakukan persalinan.

Dan, craasshhhhh...!!!! Air ketubanku dipecahkan oleh bidan, karena memang sudah waktunya akan melahirkan. Aku diberi aba-aba untuk mengejan.
Allahuakbar! Allahuakbat! Sakitnya bukan main!
posisi miring kiri, aku mengejan sekuat tenaga dan dari yang aku ingat, beberapa bidan ada yang menghiburku mengatakan "nah pintet ayo lagi, itu kepalanya sudah keliatan"

Ya Allah, kepala? kelihatan? Ayo kakak, mudahkan jalan lahirnya. Ayo kakak berjuang ya, keluar dari situ, mama dorong dari sini. Kataku dalam hati.
Aku tak lagi bisa mendenbarkan dengan jelas aba-aba bidan, yang aku tau setiap kontraksi kurasakan aku akan mengejan semampuku! sebisaku! Ayo.. sebentar lagi aku akan bisa melihat jagoan kecil yang selama ini bermain main dirahimku 9 bulan.

"Ayo mbak, !!" ku kerahkan semua tenagaku untuk mengejan.
Ketika bidan memberi intruksi untuk terlentan, aku kebingungan. Ditengah rasa sakitnya kontraksi, aku harus mendengarkan intruksi dari bidan yang jujur saja aku sudah lemas. Aku tak sanggup lagi melakukan apa-apa pada badanku.
Kuikuti araham bidan dengan setengah sadar. Suami menyadarkanku dengan semangat semangat yang mengingatkanku pada kakak didalam perutku yang akan lahir.
seingatku, aku mengejan 3 kali diposisi telentang.
"ayo mbak, kali ini mengejan yang panjang, jangan putus ya!"
Allah! Allah! Allah! Rasanya nyawaku sudah di leher dan siap untuk melayang. Sakitnya bukan main! Ditambah harus mengejan dengan sisa sisa tenaga yang ada.
"eeeeenngggtthhhhh......!!!!!!!"

Sontak seisi ruangan berseru "Alhamdulilahh"
Allahuakbar, aku lemas.
sungguh lemas, sampai melihat anakku diangkat oleh salah satu bidan dengan samar-samar. Ya Allah, terimakasih.
Aku menangis haru, tangisanku pecah ketika kudengar anakku menangis. Ya Allah, sehat, selamat, sempurna.
Aku masih tak percaya dengan kenyataan bahwa aku bisa melalui menit menit terlama dalam hidupku.

Sempat kutanyakan pada bidan yang menolong persalinanku, apakah ada kesulitan ketika bayiku akan keluar? apakah plasentanya menutupu jalan lahir? Dan ia mengatakan "Tidak .."
Lagi lagi ku teriakkan Allahuakbar dalam hati. Betapa anakku mendengarkan apa yang selama ini kukatakan padanya. Semoga kelak ia akan menjadi anak yang penurut dan berbakti pada kedua orang tuanya. Aamiin.

Sakitku tak berakhir disitu saja. Aku mash harus melewati rasanya jahitan karena ada bagian tubuh bawahku yang dirobek untuk jalan lahirnya. Tak apa, aku kuat. Karena anakku sudah ada bersamaku sekarang.

Dewangga Duta Darsono, lahir pada 2 Maret 2016 pukul 12:55 dengan berat 3.7kg dan panjang 50cm

Alhamdulillah :')


Senin, 11 November 2013

If I'm not me anymore


Dari judulnya saja mungkin kamu sudah mengernyitkan kedua alismu sembari menebak-nebak apa maksud dari kalimat yang aku pilih sebagai judul tulisanku kali ini.

Jadi mari kita masuk ruang dimensi waktu dan melakukan perjalanan alur mundur yang bisa sedikit banyak membuat kita mengerti betapa kita sudah harus menghargai dan menjaga apa-apa saja yang kita miliki saat ini.

Bukan begitu, sayang ?

Aku kerap memberikan kidung omelan hampir setiap hari ketika kamu gagal mengucapkan “selamat pagi” untukku. Omelan-omelan yang apa-adanya, yang mewakili rasa jengkelku karena kamu belum bisa membiasakan kebiasaan itu. Tak apa, nanti juga kamu akan tersadar betapa bangun pagi memiliki kebaikan 1000 kali lipat untuk segala sisi kehidupanmu. Nanti. Ketika kamu tersadar, mungkin aku sudah tidak lagi mengomelimu ini itu, sudah tidak memberimu nasehat seperti nenek-nenek lagi, aku sudah diam. Karena lelahku sudah datang.
Bagaimana? Bagaimana jika aku tidak melakukan itu lagi? Lengkapkah pagimu, sayang?

Kadang, bahkan sering. Ketika kita sedang melakukan perjalanan ke suatu tempat favorit. Aku selalu melantangkan potongan-potongan lagu yang tidak beraturan, yang membuat telingamu geli, bahkan mungkin yang membuatmu menutup kaca helm karena kebodohanku mengakibatkanmu menjadi pusat perhatian dijalan raya. Tak apa, jika kamu tidak menyukai aku yang seperti itu. Nanti kamu akan merasakan perjalanan yang sepi. Yang sunyi. Yang bebas dari pandangan-pandangan “aneh” pengendara sepeda motor lainnya. Karena aku sudah lelah melahirkan bahagiaku sendiri.
Bagaimana? Bagaimana rasanya melakukan perjalanan tanpa celotehanku, sayang?

Kamu pernah, terlalu sibuk dengan gadget kesayanganmu hingga mengabaikanku di kencan kita. Ah, itu biasa sayang. Bahkan ketika aku harus tetap mengembangkan senyum ketika candaanku tak kau hiraukan-pun aku tetap mencoba baik-baik saja. Dan itu sudah biasa bagiku. Aku harus mengajakmu berbincang, memulai percakapan-percakapan yang demi Tuhan aku pun merasa pertanyaanku itu tidak penting. Tapi aku sekedar ingin merasakan bahagia kita, bahagianya kencan kita. Tak apa jika kamu tidak begitu tertarik. Nanti aku akan diam. Seribu kali diam dan seribu kali mengabaikanmu.
Bagaimana sayang?

Bayangkan saja, jika kamu sudah tidak bisa menikmati ramainya hari kita. Karena aku sedang menunggumu untuk membahagiakanku. Dan aku memilih diam untuk itu.

B a g a i m a n a   s a y a n g ?

Rabu, 30 Oktober 2013

Jika Aku Lelakimu, Gadis


Malamnya mulai turun.
Aku beranjak dari meja kerjaku disudut ruang kamar dan berbaring ditempat tidur yang setengah berantakan oleh berkas-berkas.
Gadis, aku ingin melihat senyummu besok pagi ...” Pintaku.

***

Sudah satu bulan terakhir, aku memiliki rutinitas yang menyenangkan. Mengamatimu diam-diam dari balkon apartmentku. Menghafal gerikmu yang kadang terlihat konyol. Menikmati indahmu yang selalu muncul disana, dikursi balkon apartementmu yang berjarak sekitar 10 meter dari tempatku.

Entah perasaan ini muncul tiba-tiba ketika pertama kali aku pindah ke apartment ini.
Di pagi pertama aku mendapati bidadari tengah asyik bermain dengan sepasang kelinci berwarna putih.
Bidadari dengan balutan dress maxi putih lengkap dengan jilbab putihnya. Serba putih. Cantik sekali.
Aku mendengar suara tawamu yang lantang. Lucu memang, gadis dengan kemasan selembut itu bisa mempunyai suara yang lantang. Lucu. Ah, kamu unik sekali, gadis.

Dari situ aku suka menikmati pagi dibalkon apartment baruku. Sekedar menyeruput secangkir kopi atau teh, atau bahkan hanya sekedar bersandar dipinggir pagar melihat kegiatan ibu-ibu muda yang sibuk mengeringkan selimut dan pakaian di teras balkon. Padahal jujur saja, aku hanya ingin melihatmu, gadis. Hanya itu!

Pernah, disuatu pagi kamu melihat kearahku. Entah benar melihatku atau melihat sekitarku. Karena pohon cemara yang menjulang diantara balkon kami sungguh kadang menjadi penghalangku melihatmu.

Kamu mendapatiku sedang berpangku tangan diinduk pagar balkon. Kamu mendapati bola mataku tengah asyik melihatmu dari jarak pandang sekian meter. Sial. Aku takut kamu menilaiku bukan pria baik-baik karena mengamati seorang gadis dengan tatapan penuh harap.

Tapi tak apa. Itu berarti kamu sudah merasakan keberadaanku disini. Melihatmu.

Ini sudah hari ke 41. Tadinya aku hanya ingin menginap sekitar dua pekan saja. Melihat kondisi apartment yang tidak strategis, dan jauh dari pusat kota awalnya membuatku ingin cepat mencari tempat tinggal yang baru. Tapi kamu, kamu membuatku betah berlama-lama di apartement ini.

Tak apa, aku suka menghabiskan waktuku disini. Menatap mu dari kejauhan saja aku sudah cukup senang. Apalagi jika bisa berkenalan denganmu.
Tuhan, pasti aku menjadi laki-laki paling beruntung dimuka bumi.
Kira-kira siapakah namamu, Gadis? Aku suka menebak-nebak sendiri dalam hati. Dengan paras anggun yang walaupun menurutku tidak termasuk kategori sangat cantik tapi kamu memiliki pancaran aura menarik yang membuatku ingin mengenalmu lebih dalam lagi, lebih jauh lagi, siapa tahu aku bisa menjadi seseorang yang istimewa dihidupmu. Kadang, aku suka meletakkan sebuah nama untukmu. Seperti Isabel mungkin, atau Clara, atau ah … Tunggu Gadis, siapa itu?!

Mataku nanar dibuatnya. Pemandangan yang sungguh tak kuduga. Aku meletakkan cangkir kopiku dimeja. Lalu melempar pandang kearahmu lagi. Mencari tahu dan menebak-nebak. SIAPA DIA?

Ada laki-laki keluar dari dalam apartmentmu dan duduk tepat didepanmu. Tanpa sapaan. Tanpa basa-basi. Pria itu berjalan kearahmu tapi tidak menghampirimu, ia memilih untuk duduk dikursi yang agak jauh dari tempatmu. Saudara laki-lakimu? Tapi mengapa kalian tidak seperti saudara kandung yang hangat?

Tiba-tiba saja kamu berdiri dari kursimu, berlenggang sedikit terburu masuk kedalam apartmentmu. Kenapa ini? Ada apa? Kenapa kamu masuk kedalam ketika dia menghampirimu, Gadis?


Aku memutar otakku. Berfikir siapakah lelaki yang kalau kutaksir umurnya tidak jauh dari aku. Sekitar 26 atau 27 mungkin.

10 menit kemudian kamu muncul dengan satu nampan berisi satu cangkir minuman dan satu piring kecil berisi makanan. Dari sini terlihat seperti piring berisi roti cokelat atau roti apalah itu aku juga tidak bisa melihat dengan jelas.
Kamu meletakkannya di meja balkon. Tanpa menunggu lama, dia langsung menikmati minuman itu yang akhirnya bisa kutebak cangkir putih itu berisi kopi karena setelah laki-laki itu meminumnya kamu buru-buru memberikan tissue untuk membersihkan sisa ampas yang tertinggal diujung bibirnya yang kaku.

Sial. Apakah itu laki-laki mu, Gadis?


Laki-laki dingin yang tidak memperlakukanmu dengan baik. Bahkan tidak mampu menciptakan senyum diparasmu? Dia mengabaikanmu beberapa kali. Bahkan kadang suka menyinggungmu dari gayanya berbicara.

Aku bisa membaca raut wajahmu yang kecewa ketika gagal mengajaknya bersenda gurau. Kamu terlihat lelah harus berusaha sendiri membahagiakan kalian. Aku bisa melihatnya dari sorot matamu yang melemah hingga akhirnya kamupun diam. Terlihat sangat kepayahan berfikir kira-kira apa yang mampu membuat kalian menghangat.

Aku juga bisa melihat tekanan batin yang mengalir deras dikerutan alismu setiap kalian berbincang, gadis.
Ayolah, jika dia tidak bisa membuatmu nyaman, itu memang artinya bukan dia yang harusnya menemanimu. Bukan kamu yang harus menemaninya.
Bukan!


Tuhan. Hukum saja laki-laki itu karena telah menyia-nyiakanmu!!


Entah, aku kesal sendiri melihat pemandangan pagi ini. Biasanya aku melihat tawa kecilmu dengan sepasang kelinci manis itu, atau kamu yang sekedar bernyanyi lagu random yang jujur saja aku tidak tahu siapa penyanyinya. Tapi aku suka. Lucu. Daripada melihatmu dengan kekasih yang sama sekali tidak menganggapmu ada.

Gadis, jika dia tidak bisa melihat kecantikanmu, itu artinya dia tidak bisa dan tak akan bisa menambatkan hatinya padamu.
Jika dia tidak bisa membuatmu tersenyum, tenang saja... aku pasti bisa.


Aku yang akan dengan senang hati menemanimu bermain dengan kelinci-kelinci manismu setiap pagi. Aku yang akan menikmati secangkir kopi pagi penyemangat darimu
Aku yang akan menggandeng tanganmu sepanjang perjalanan kencan kita
Aku yang akan membuatmu sangat.. sangat.. dan sangat nyaman setiap pertemuan kita.
Aku yang akan menghabiskan sepiring nasi goreng hambarmu.
Aku! Aku! Aku!

Biar aku yang menikmati candaan khasmu.
Biar aku yang membalas pesan singkat mu, memberikanmu ucapan selamat pagi termanis setiap pagi untukmu hingga kamu merasa dicintai setiap harinya.
Aku pastikan, pagilah yang kau tunggu. Karena dipagimu kamu akan merasa seperti disuntik semangat baru. S e t i a p h a r i n y a !!
Aku bisa menjadi seseorang yang dengan ceria memberikan moorning blessing untukmu.

Aku bisa! Aku bisa!

Bukankah itu yang seharusnya didapatkan seorang wanita?

Karena kaumku diciptakan untuk membahagiakanmu gadis, menjunjung tinggi derajatmu, menjagamu, dan membuatmu merasa menjadi wanita paling dicintai setiap harinya.

Lalu, jika kamu bertanya apa tugasmu? Tugasmu hanyalah menemaniku saja, gadis. Hanya itu.

***

Malamnya mulai turun.
Aku beranjak dari meja kerjaku disudut ruang kamar dan berbaring ditempat tidur yang setengah berantakan oleh berkas-berkas.
Gadis, aku ingin melihat senyummu besok pagi ...” Pintaku.

***

Kamis, 10 Oktober 2013

Satu Jam Terlama


Pernah, disuatu pagi aku terbangun dengan mata terbelalak.
Mendapati lingkaran emas putih di jari manisku.
Aku tersenyum tipis. Kemudian menatap jauh ke langit-langit kamar tidur.
Mengingat-ingat kembali detik membahagiakan itu.

Hhhh... “ Aku berdesis.

Jadi memang aku telah mengalaminya. Mengalami satu moment yang merubah segalanya.
Merubah cara pandangku, merubah cara berfikirku, juga merubah kadar kecintaanku padamu menjadi selalu satu tingkat diatas rata-rata setiap harinya.
Ya. Hanya dalam satu jam saja, aku berganti status menjadi -Tunangan seseorang-

Satu jam terlama dalam hidupku adalah ketika aku mendengar riuh suara kerabat yang mengatakan rombongan keluargamu sudah mulai datang.
Ah, jadi kalau kamu tahu, aku seperti menelan kembang api hidup-hidup.
Rasanya ingin sekali berlari keluar, ikut menyalami satu persatu keluargamu yang berdatangan. Tapi, aku harus tetap berada didalam rumah. Seperti dipingit selama beberapa menit dari pandanganmu. Dari tempat dudukku, aku melempar pandang diam-diam mencarimu diantara kerumunan kerabat yang datang. Sial. Aku tidak bisa menghentikan degup jantung yang semakin kencang ketika mataku menangkap satu pemandangan tak terduga.

Kamu. Lengkap dengan batik ungu yang dipadu celana hitam beserta kopyah, terlihat begitu mantap berjalan kearahku.

Dan tentu saja, hatiku bergetar seribu kali lebih cepat dari perlombaan estafet antar SMA yang dulu pernah aku menangkan.

Tuhan, itu calon suamiku. Batinku.

Kemunculanmu diantara para kerabat yang datang, diikuti langkah ayah serta ibu yang juga datang dengan nuansa ungu.

Oh Tuhan, bermimpikah aku dilamar oleh lelaki ini? Batinku lagi.

Sekujur tubuhku gemetar. Aku panas dingin. Bahkan aku tidak bisa mengontrol permukaan tanganku yang menggelinjang karena gugup.

Beberapa kali ku atur nafas agar terlihat lebih rileks. Tapi lagi lagi aku gagal. Jangankan mengatur nafas. Untuk mengangkat kepalaku saja aku tak sanggup.
Iya, sepanjang acara sakral itu berlangsung aku tak pernah punya nyali menatap siapapun. Tak terkecuali kamu.

Detiknya menjadi sangat lama ketika perwakilan keluargamu mulai membuka suara. Mengatakan maksud dan tujuan datang kemari untuk ...
untuk ...

Aku memejamkan mata. Menunggu lanjutan kalimatnya yang sedikit menggantung.

"... Bismillah ... " Ucapku dalam hati

Aku tetap memejamkan mata

"Meminang putri bapak" Sambungnya dengan tegas

Aaahh... lega!

Aku dipinang. Sejak kalimat itu kudengarkan. Aku merasa sudah menjadi aku yang baru.

                                                           * * *

Iya, aku sudah menjadi tunangan seseorang. Kataku dalam hati sembari berbalik arah diatas tempat tidurku yang nyaman.

Kulirik kembali cincin manis itu.
Kuraba, dan kuputar-putar pelan. Sangat pelan hingga diputaran ke sekian aku merasakan kulitku bergesekan dengan satu tekstur pahatan.

“Hhmmhhh …. “ Aku tertawa kecil.

Ada pahatan namamu dilingkaran kecil ini tuan.
Nama yang akan ku jaga kehormatannya.
Nama yang akan ku bahagiakan sepanjang hidupnya.
Dan tentu saja, nama yang akan kupakai nama belakangnya untuk melengkapi namaku kelak ketika kita sudah menjadi muhrim yang halal.

Entah, perkenalan kita yang begitu singkat bisa melahirkan cerita manis disetiap episodenya.
Bagaimana bisa?
Bagaimana bisa aku menjatuhkan pilihan pada laki-laki 'cuek dan dingin' sepertimu tuan?
Lalu mengapa aku mengiyakan permintaanmu meminangku kala itu jika aku kerap diserang sesak karena memilikimu?
Bagaimana bisa aku mencintaimu sebegini cepat hingga aku tak mampu mengukur seberapa cepat pilar-pilar rinduku berlarian ke arahmu.
Bagaimana bisa?

“Hmmmm... “ Aku bergumam manja sembari tertawa kecil.

Kemudian aku melirik satu persatu keranjang bingkisan darimu yang sampai saat ini masih rapi terjaga diatas lemari kayu yang kokoh. Keranjang dengan nuansa merah marun berhias pita cantik itu selalu membuatku tersenyum geli. Aku selalu tergingat saat kita berlarian di salah satu Mall untuk mendapatkan sepatu yang aku mau. Kita juga pernah melewati panas yang begitu terik hanya untuk mencari barang-barang yang aku butuhkan. Dan itu, kau lakukan untukku tuan. Untukku :)

U n t u k  h a r i  b a h a g i a  k i t a .

Tahukah kamu? Tawa lepas kita sepanjang perjalanan diatas sepeda motor kesayanganmu selalu menjadi obat lelahku. Mungkin begitu juga denganmu. Leluconku yang kadang tak sadar menyita tenagamu untuk tertawa selama beberapa menit justru bisa memberikan asupan tenaga dua kali lipat, melebihi seporsi bakso kesukaan kita.

Jadi marilah kita menikmati masa-masa membahagiakan ini. Menikmati hari menjadi tunanganmu, dan menikmati hari berada disampingku.

Menghabiskan segala daya untuk menjadi satu pilar yang kokoh.