Ini sudah hari ke 32 usia Duta. Iya, Duta. Malaikat kecil yang kini tengah tidur pulas dipangkuanku. Ku akui, perjalanan bertemu dengannya tidaklah mudah.
Bermula cerita dengan riwayat keguguran dikehamilan pertama, aku mengikhlaskan untuk berhenti dari pekerjaanku, berhenti menapaki karier yang bisa saja dalam hitungan bulan aku sudah menjadi supervisor. Tak apa, demi kehamilan yang lancar, aku relakan ambisiku untuk menjadi wanita karier sementara ini.
Bulan pertama, bulan kedua, bulan ketiga. Selama tiga bulan pertama aku menjalani kehamilan ditempat tinggal yang kurang nyaman. Iya, hanya berukuran 3x7 meter. Lalu pada bulan keempat, kami sepakat untuk mengontrak rumah agar bisa lebih luas merawat bayi kelak.
Singkat cerita, aku yang tengah hamil usia 36 weeks, dihadapkan pada kenyataan bahwa janin yang ada didalam rahimku mengalami kasus placenta previa, dimana plasenta menutupi jalan lahir, dan dokter menyarankan untuk ceasar. Tuhan, aku tak pernah membayangkan melahirkan dengan cara itu. Oke. yang membuatku takut bukan luka jahitan, tapi hari hari setelah melahirkan. Proses ceasar tak bisa cepat pulih, sedangkan aku sudah harus menyiapkan tenaga dan mental untuk mengurus segalanya sendiri.
Pada usia 37 weeks aku kembali menjalani pemeriksaan, dan lagi-lagi dokter memberitahukan bahwa kondisi janinku tetap pada hasil yang sama. Placenta previa!
Setiba dirumah, hatiku robek. Remuk seperti remahan roti. Sungguh aku benar-benar ingin normal!!
Suami menenangkanku bahwa aku harus selalu berfikir positif menghadapi persalinan. Mungkin ia bisa sesantai itu karena tak ada diposisiku. Diposisi wanita yang tengah hamil tua dan dibayang-bayangi meja operasi.
Segala upaya dan cara kulakukan untuk memperbaiki kondisi didalam rahimku sambil sesekali mengajaknya bicara tentang betapa aku ingin melahirkannya dengan normal agar bisa langsung menggendong dan merawatnya. Berkali-kali kuucapkan itu, semoga ia mendengar.
Usia 38 weeks aku belum juga merasakan tanda-tanda persalinan, tak ada kontraksi, tak ada pendarahan, tak ada air ketuban yang keluar. Tak ada apapun!
Usia 39 weeks, tepat satu minggu sebelum HPL. Pukul 7 malam aku merasakan mulas, memang perasaan saat itu sudah sangat gusar, entah karena memang sudah waktunya atau memang terbawa suasana. Tapi tubuhku langsung bergetar ketika kudapati ada flek di pakaian dalamku. Astaga! waktunya sebentar lagi! Bahagia bercampur rasa semakin cemas.
Kuceritakan pada suami tentang berita bahagia itu, lalu ia menggenggam tanganku dan berkata "pasti bisa.. bismillah ya ma.." Oh Tuhan betapa aku ingin berteriak pada dunia bahwa beberapa jam kedepan aku akan melahirkan yang kata orang sakitnya luar biasa antara hidup dan mati.
Segera ku dibawa ke rumah bersalin terdekat tempat biasa aku memeriksa kandungan. Bidan memeriksaku dan jawaban bidan sungguh membuatku lemas "oh, belum ada apa-apa kok ini" begitu katanya setelah melakukan pemeriksaan dalam yang sakitnya naudubillah. Ok, aku hanya terlampau GR mungkin, berharap akan segera melahirkan ternyata masih belum. kataku dalam hati.
Lalu bidan memberiku suntikan dibagian (maaf) pantat yang nyerinya luar biasa. Setelah itu aku diperbolehkan pulang dengan segenap cerita mengecewakan pada keluarga yang sudah menanti kelahiran seorang bayi.
Tiba dirumah aku merasakan sesuatu bergejolak diperutku. Oh apa ini? seperti di korek korek dari dalam. Dan jujur rasanya setiap korekan itu kurasakan aku seperti ingin meremas sesuatu untuk menahan sakit yang tidak biasa itu. Segera googling, dan menurut dari yang aku baca adalah aku sedang mengalami kontraksi pembukaan. Benarkah? sungguh?
Semalaman dari pukul 11 malam sampai pukul 3 dini hari kontraksi kurasakan tiap 30 menit sekali, sempat tertidur tapi terbangun lagi karena rasa kontraksi yang makin tak tertahankan.
Pagi itu aku masih sempat mandi, masih sempat sarapan. Karena kurasakan kontraksi menghilang, ada rasa sedih didalam hati kenap tak ada lagi kontraksi yang menandakan kelahiran semakin dekat, kenapa.
Pukul 8 pagi, aku merasakan kontraksi lagi. Kali ini lebih hebat! Lebih astaghfirullah! Lebih sakit dari semalam. Dan interval sakitnya sudah mendekat, tiap 15 menit sekali. Lalu menjadi 10 menit sekali, dan naik lagi menjadi tiap 5 menit ada 2 sampai 3 kontraksi. Bayangkan di lima menitmu kamu merasakan perutmu dirobek robek dari dalam. Kuremas remas tangan suamiku yang sedetikpun tak beranjak dari sisiku ketika aku merasakan sakitnya kontraksi.
Pukul 11 aku sudah menyerah pada sakitnya, yang tadinya aku masih sesekali berbincang, tertawa dan melakukan aktivitas. Kini sudah tak bisa lagi, kakiku rasanya lumpuh. Lemas tak bertulang seperti ingin jatuh. Allah, sakitnya.
Ya Allah sakit! Luar biasa sakit!
Aku dilarikan ke rumah bersalin yang sama, dan dengan bantuan bidan-bidan setempat aku ditidurkan diruang tindakan, karena memang kakiku lemas. Setelah dilakukan pemeriksaan dalam, betapa takjubnya aku ketika bidan mengatakan "Sudah bukaan 5, ayo setengah jalan lagi" katanya sambil menyiapkan alat-alat untuk persainanku.
Allahuakbar! Allahuakbar! Semakin naik bukaan rasanya semakin tak tahan. Jangankan untuk berbicara, untuk bernafas saja aku sudah kelelahan. Dan lagi-lagi suami yang selalu disampingku mengingatkan untuk atur nafas! Atur nafas ma!
Entah sudah bukaan berapa yang kurasakan saat ini, aku diintruksi untuk miringkan badan kekiri. Dan luar biasa, miring kiri membuat kontraksinya semakin menjadi-jadi. Aku kesakitan. Rasa ingin mengejan pun mulai terasa dari leher, sesekali aku berteriak kesakitan tapi suami mengingatkan "jangan teriak, nanti tenaganya habis ma, atur nafas! atur nafas!"
Sial! aku kehilangan fokus selama beberapa menit itu. Efek kontraksi yang semakin lama membuat nafasku hilang kendali.
Melihat reaksiku yang seperti sudah tak tahan dengan sakitnya, bidan melakukan pemeriksaan dalam kembali. "Sudah bukaan lengkap, ayo semua" aku masih bisa mendengar dengan jelas bidan tersebut mengatakan itu pada bidan-bidan yang lain agar bersiap-siap untuk menolongku melakukan persalinan.
Dan, craasshhhhh...!!!! Air ketubanku dipecahkan oleh bidan, karena memang sudah waktunya akan melahirkan. Aku diberi aba-aba untuk mengejan.
Allahuakbar! Allahuakbat! Sakitnya bukan main!
posisi miring kiri, aku mengejan sekuat tenaga dan dari yang aku ingat, beberapa bidan ada yang menghiburku mengatakan "nah pintet ayo lagi, itu kepalanya sudah keliatan"
Ya Allah, kepala? kelihatan? Ayo kakak, mudahkan jalan lahirnya. Ayo kakak berjuang ya, keluar dari situ, mama dorong dari sini. Kataku dalam hati.
Aku tak lagi bisa mendenbarkan dengan jelas aba-aba bidan, yang aku tau setiap kontraksi kurasakan aku akan mengejan semampuku! sebisaku! Ayo.. sebentar lagi aku akan bisa melihat jagoan kecil yang selama ini bermain main dirahimku 9 bulan.
"Ayo mbak, !!" ku kerahkan semua tenagaku untuk mengejan.
Ketika bidan memberi intruksi untuk terlentan, aku kebingungan. Ditengah rasa sakitnya kontraksi, aku harus mendengarkan intruksi dari bidan yang jujur saja aku sudah lemas. Aku tak sanggup lagi melakukan apa-apa pada badanku.
Kuikuti araham bidan dengan setengah sadar. Suami menyadarkanku dengan semangat semangat yang mengingatkanku pada kakak didalam perutku yang akan lahir.
seingatku, aku mengejan 3 kali diposisi telentang.
"ayo mbak, kali ini mengejan yang panjang, jangan putus ya!"
Allah! Allah! Allah! Rasanya nyawaku sudah di leher dan siap untuk melayang. Sakitnya bukan main! Ditambah harus mengejan dengan sisa sisa tenaga yang ada.
"eeeeenngggtthhhhh......!!!!!!!"
Sontak seisi ruangan berseru "Alhamdulilahh"
Allahuakbar, aku lemas.
sungguh lemas, sampai melihat anakku diangkat oleh salah satu bidan dengan samar-samar. Ya Allah, terimakasih.
Aku menangis haru, tangisanku pecah ketika kudengar anakku menangis. Ya Allah, sehat, selamat, sempurna.
Aku masih tak percaya dengan kenyataan bahwa aku bisa melalui menit menit terlama dalam hidupku.
Sempat kutanyakan pada bidan yang menolong persalinanku, apakah ada kesulitan ketika bayiku akan keluar? apakah plasentanya menutupu jalan lahir? Dan ia mengatakan "Tidak .."
Lagi lagi ku teriakkan Allahuakbar dalam hati. Betapa anakku mendengarkan apa yang selama ini kukatakan padanya. Semoga kelak ia akan menjadi anak yang penurut dan berbakti pada kedua orang tuanya. Aamiin.
Sakitku tak berakhir disitu saja. Aku mash harus melewati rasanya jahitan karena ada bagian tubuh bawahku yang dirobek untuk jalan lahirnya. Tak apa, aku kuat. Karena anakku sudah ada bersamaku sekarang.
Dewangga Duta Darsono, lahir pada 2 Maret 2016 pukul 12:55 dengan berat 3.7kg dan panjang 50cm
Alhamdulillah :')